Hendrick adalah satu di antara lima sahabat hantu Belanda yang beberapa belas tahun belakangan ini sibuk menggerecoki hidupku. Ini adalah kisahnya. Namun, bukan cerita tentang caranya menakuti manusia, bukan pula curhatnya tentang kehidupan setelah mati. Ini tentang lorong waktu, ketika aku memaksanya untuk menunjukkan masa hidupnya dulu.
Buku ini berkisah tentang Asih, seorang kuntilanak yang tinggal di pohon dekat rumah nenek Risa. Tidak ada yang tau mengapa Asih menjadi seperti ini. Yang jelas, pada awalnya Asih juga merupakan seorang manusia biasa. Kasih, itu nama aslinya. Entah kapan dia mulai dipanggil Asih. Lahir dari sebuah keluarga miskin di perkampungan di bumi priangan, Asih merupakan anak tertua dari keluarga terseb…
Rumah Kakek tak lagi menyenangkan tanpa kehadiran adik dan sepupu-sepupuku yang lain. Peter, Hendrick, Janshen, William, dan Hans pun tak lagi mengisi hari-hariku hingga rasanya tak ada lagi penyemangat hidup. Setiap hari hanya menjalani keseharian di sekolah yang membosankan sambil menunggu waktu liburan kembali datang. Namun, tiba-tiba aku dan para sepupuku kembali berkumpul karena sebuah …
Menulis kisah ini tidak mudah untuk Risa karena beberapa anggota keluarganya telah berpulang. Kakek yang menjelaskan bahwa Samex adalah Satirah dan Imas. Mereka adalah sahabat Mak Ea, yang ternyata bernama Endah. Ternyata Imas bukan muncul baru2 ini saja. Dia telah mengganggu siapapun tanpa terkecuali bukan hanya orang yang dikenalnya semasa hidup saja. Banyak warga Rancah yang dibuat geram jug…
Buku ini bercerita tentang Tania, Ananta Prahadi dan Pierre. Tania, perempuan yang tidak disukai orang-orang karena dianggap alien, monster. Walaupun sebenarnya Tania adalah perempuan yang suka tertawa, dan keinginannya menjadi diri sendiri. Ananta Prahadi, yang biasa akrab dipanggil Anta. Kegemarannya membersihkan rumah, menyukai lontong kari, mendukung pelestarian makhluk langka. Nah, makhl…
Ini adalah cerita kecil kami, di musim libur sekolah yang menyenangkan. Ketika aku, Angga, Nicko, Kakang, dan RIri untuk kali pertama berterus terang dan bertualang dengan kemampuan kami. Tidak pernah sedikit pun terpikir, ini adalah sebuah awal yang perlahan membentuk karakter kami. Sekumpulan penakut yang mau tak mau menjadi berani karena tak bisa menutup mata dan telinga dari teror mereka. …